Latest Posts

HARAPAN DITENGAH KABUT ASAP; PELESTARIAN HUTAN BERDASARKAN KEARIFAN LOKAL

sumber gambar: http://img1.beritasatu.com/data/media/images/medium/1441639194.jpg

Merunut secara global geografis wilayah Indonesia, Indonesia adalah wilayah yang paling hijau, paling segar dan paling indah.  Itulah  mengapa  Indonesia  dijuluki  zamrud  Khatulistiwa.  Selain itu, wilayah Indonesia juga disebut sebagai paru-paru dunia dengan wilayah hijaunya yang luas, hijaunya wilayah Indonesia dinilai mampu menjaga ekosistem bumi, menjaga keseimbangan sirkulasi udara, mengimbangi pemanasan global, menjaga siklus sistem hyodrostatis, mengendalikan keseimbangan cuaca dan selanjutnya menjaga kelangsungan hidup semua makhluk hidup yang tinggal di muka bumi.
Namun sayang, Julukan-julukan di atas sebenarnya bertolak belakang dengan kenyataan saat ini. Beberapa tahun terakhir, sampai pada hari ini, banyak hutan-hutan yang dieksploitasi secara besar-besaran demi keuntungan materi, baik oleh mereka yang memiliki izin legal, seperti pengusaha HPH, pemegang izin hak pemanfaatan hasil hutan (HPHH), izin pemanfaatan kayu (IPK) dan lain-lain, maupun oleh mereka pelaku pemanfaatan hutan yang ilegal, seperti penebang liar yang jumlahnya sangat banyak dan juga oleh sebagian masyarakat sekitar hutan, sampai dengan pembakaran hutan dengan alasan untuk membuka lahan baru. Bukannya tanpa sebab, minimnya dana yang digunakan menjadi salah satu sebab kenapa mereka memilih membuka lahan dengan cara membakar hutan.
Masih tergambar jelas di memori kita semua, bagaimana krisis asap kabut dari kebakaran hutan dan lahan gambut di Riau tahun lalu, penanganannya bukannya semakin membaik, tiap tahun keadaannya justru menjadi semakin memburuk. Tak heran jika pada akhirnya banyak memakan korban, jalanan yang penuh dengan wajah bermasker, anak-anak tidak bisa belajar di sekolah dengan tenang, bahkan tidak sedikit dari mereka yang harus masuk rumah sakit karena kesulitan bernapas. Bencana ini tidak saja dirasakan oleh saudara-saudara kita di tanah air sendiri, tetapi juga para tetangga di negara-negara sahabat. di Singapura, kualitas udara terdeteksi sebagai yang terburuk sepanjang sejarah, dan di Malaysia sekolah-sekolah terpaksa diliburkan karena kualitas udara yang sangat buruk. Tak terhitung lagi berapa total kerugian negara yang diakibatkan oleh bencana “asap tahunan” ini.
Sebagai warga negara yang baik, tidak adil juga rasanya jika kita hanya menyalahkan pemerintah dalam kasus ini. Seolah-olah negara lah yang paling bertanggung jawab atas semua musibah yang ada. Sumbangan pemikiran sangat diperlukan, mengingat bencana kabut asap hampir tiap tahun melanda. Selain itu partisipasi aktif dari masyarakat dalam rangka mendukung kebijakan pemerintah dalam hal pengelolaan hutan dan sumber daya alam yang baik sudah semestinya didukung. Bentuk partisipasi aktif masyarkat itu sendiri bermacam-macam, diantaranya adalah menjaga kelestarian hutan dengan kearifan lokalnya. Karena bagi masyarakat, hutan merupakan bagian dari kehidupan, bagaikan ibu yang menghidupi mereka. Sehingga ketersediaan ruang ekspresi menjadi harga mati.
Sumintarsih dkk. dalam penelitiannya menemukan bahwa kearifan lokal para petani di daerah pedesaan DIY berupa aspek-aspek kehidupan budaya diantaranya ada yang mempunyai implikasi positif terhadap pelestarian alam. Dengan kata lain, eksploitasi yang dilakukan petani terhadap lingkungan secara tidak langsung selalu didasarkan pada tata-cara yang bisa mempertahankan keseimbangan ekosistem, tidak semata-mata mendapatkan keuntungan dari lingkungan.
Di desa Purwosari Kabupaten Kulonprogo DIY, ada satu contoh yang sangat bagus mengenai kearifan lokal untuk menjaga kelestarian lingkungan. Masyarakat setempat memiliki pedoman ngengehi anak putu ben komanan”.
Maksud dari ungkapan ini adalah ketika memanfaatkan kekayaan alam mereka selalu teringat bahwa isi dan kekayaan alam lingkungannya tersebut tidak hanya untuk generasi mereka saja, tetapi juga untuk generasi anak-cucu mereka. Mereka mempunyai pendapat
“Manungsa, alam paringane Gusti. Mila manungsa kedah menfaataken kanthi dipun jagi ingkang sae. Awit kabetahanipun tiyang gesang: toya, siti lan sanesipun, kawula menawi mboten dipun mekaraken mangkenipun badhe mboten cekap.”
Maksudnya, bahwa manusia dan alam adalah ciptaan Tuhan, sehingga manusia harus memanfaatkan dan menjaganya dengan baik. Kekayaan alam yang dimanfaatkan dan dijaga dengan baik tentu akan dapat mencukupi kebutuhan manusia sampai generasi yang akan datang. Tetapi apabila tidak dimanfaatkan dengan baik pasti akan merugikan manusia sendiri.
Pemanfaatan sumber daya alam dengan berlandaskan tradisi-tradisi lokal yang sarat dengan pesan-pesan moral ini secara tidak langsung menjadi mekanisme kultural untuk mengontrol pemanfaatan sumber daya alam hutan agar tidak berlebihan sehingga bisa merusak keseimbangan ekosistem hutan sehingga pada akhirnya kebakaran hutan yang menyebabkan bencana asap pun dapat diminamilisir serta dihilangkan.

ISU DWI KEWARGANEGARAAN (BIPATRIDE); BOLA PANAS YANG TERUS MENGGELINDING







Sumber gambar: https://pixabay.com/p-62742/?no_redirect


Beberapa hari terakhir menjelang peringatan HUT RI yang ke 71 media dihebohkan dengan pemberhentian Arcandra Tahar dari posisinya sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), pemberhentian jabatan ini sontak membuat geger masyarakat Indonesia mengingat usia jabatannya baru genap 20 hari kerja, usut punya usut ternyata sang menteri memiliki pasport ganda, hal ini lah yang harus membuatnya kehilangan jabatan sebagai menteri ESDM. sebagaimana UU Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan, seseorang yang memiliki paspor negara lain, maka status kewarganegaraan Indonesianya gugur. Mempertahankan Arcandra sama saja melegalkan warga asing berkuasa.
Tidak hanya Arcandra, Gloria Natapradja Hamel juga mengalami nasib yang sama, Ia digugurkan dari Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) yang akan bertugas di upacara peringatan hari kemerdekaan RI ke-71 di Istana Kepresidenan tepat satu hari sebelum acara. Namun nasib gloria mungkin sedikit lebih baik, karena ia akhirnya ia diizinkan berpartisipasi dalam penurunan bendera merah putih. Menpora kemudian berterima kasih pada Pak Jokowi karena sudah memberikan izin kepada Gloria. Keputusan bijak jika dilihat dari sisi kemanusiaan, tetapi tetap ada aturan yang dilanggar. Andai saja sejak awal Menpora berbesar hati minta maaf pada Gloria dan publik atas kelalaiannya dalam menyeleksi anggota Paskibraka, tentu Pak Jokowi tidak perlu repot dan menuai cemooh.
Seperti bola panas yang terus menggelinding, isu dwi kewarganegaraan kini mulai menghampiri Menteri BUMN, Rini Soemarno. Isu tersebut bukannya tanpa alasan. Rini Soemarno adalah seseorang yang lahir di berkelahiran Maryland, Amerika Serikat pada 9 Juni 1958 silam. Amerika Serikat sendiri adalah negara penganut prinsip kewarganegaraan Ius Soli, yakni hak kewarganegaraan individu berdasarkan wilayah tempat dia dilahirkan. Jadi wajar jika kemudian DPR mendesak pemerintah untuk mengecek status kewarganegaraan menteri BUMN tersebut.
Bergeser ke Daerah, istri Gubernur Kepulauan Riau, Norliza Nurdin, kini juga tengah hangat diperbincangkan. Pelantikan dirinya sebagai ketua PKK kepulaua Riau terancam tidak bisa dilaksanakan karena masih berstatus warga negara singapura.
Entah siapa yang pertama kali menedang bola panas tersebut, tapi yang jelas hingga kini bola tersebut masih terus saja menggelinding akibat “di gocek” politik kepentingan. Pro dan kontra juga tak luput mewarnai perjalanan isu dwi kewarganegaraan. Sebagian menolak karena menganggap dwi kewarganegaraan itu seperti berdiri dengan dua kaki namun ditempat yang berbeda hal ini tentu dapat membocorkan rahasia Negara. Sedangkan sebagian dari mereka menerima dengan alasan bahwa Gross National Product (GNP) atau Produk Nasional Bruto akan semakin meningkat sebagaimana yang sudah dirasakan oleh negara-negara berkembang seperti Pakistan, Sri Lanka, dan Bangladesh. GNP ketiga negara tersebut meningkat drastis dari tahun ke tahun seiring diberlakukannya Dwi Kewarganegaraan (Bipatride). Kita lihat saja bagaimana akhir dari isu ini, apakah pemerintah akan menerima ataupun akan menolak. Pentas drama yang menarik !


*pernah terbit di media online http://www.inhilklik.com/2016/08/dwi-kewarganegaraan-bola-panas-yang.html













YOGYAKARTA; KOTA YANG TAK LAGI "MANIS"


sumber gambar: http://cdn.img.print.kompas.com/getattachment/37fb9dd7-f041-4dd4-accb-5ee72ff031b3


Fakta telah membuktikan bahwa Yogyakarta adalah daerah yang kaya akan budaya, bahkan menjadi salah satu daerah tujuan wisata utama di Indonesia. Pariwisata merupakan salah satu elemen yang mampu membuat perekonomian tumbuh pesat di yogyakarta. Hal ini dapat dilihat dari wisata yang ada di Yogyakarta sangat beragam. mulai dari wisata pantai, gunung, wisata budaya, sejarah, religi bahkan wisata edukasi serta tempat- tempat rekreasi yang menarik lainnya. sehingga, tak heran jika wisatawan mancanegara pun menjadi terpesona akan wisata dan budaya dikota ini. 

Melihat kota yang dipadati oleh banyak orang, membuat peluang bisnis kuliner di Yogyakarta semakin cerap prospeknya. Mengapa demikian? Banyangkan saja, kota ini didatangi oleh orang-orang berbeda tiap harinya dan kebutuhan makanan adalah pelengkap dari semua kebutuhan.

Namun sayangnya prospek tersebut tidak dibarengi dengan kebijakan Pemda setempat (atau mungkin saya yang belum mendengar kebijakannya) tentang kewajiban warung kuliner dalam mempromosikan atau menjual makanan khas Yogyakarta. Hal ini penting dilakukan dalam rangka menjaga dan melestarikan makanan khas suatu daerah. 

Saat ini, makanan “khas yogyakarta” seakan sepi dari pemberitaan dan promosi. Sebagai contoh, saya fikir selama ini kebanyakan wisatawan hanya tau (mendengar) bahwa gudeg itu manis tanpa pernah mencicipi bagaimana sebenarnya rasa gudeg tersebut. Manis seperti apa yang sebenarnya di maksud ? hanya manis saja kah ? atau manis namun gurih ? atau manis yang lain. Tidak adil rasanya jika menghakimi sesuatu tanpa pernah tau bagaimana yang sebenarnya. 

barangkali ada yang mau menghitung, kira-kira berapa jumlah warung makan / kulineran di Sepanjang jalan kaliurang ?. saya fikir tidak hanya10 sampai 20 penjual Kuliner, tapi ada ratusan penjual kuliner yang berjejer rapi baik itu berbentuk ruko, rumahan bahkan dengan tenda. Pertanyaannya kemudian adalah, berapakah yang menjual makanan atau menu khas/asli yogyakarta ? satu, dua ?

mungkin prinsip “dimana bumi dipijak, disitu langit di junjung” tidak asing ditelinga kita. Namun sayangnya prinsip ini tidak berlaku bagi pengusaha kuliner atau warung makan, karena saat ini warung makanan/ kuliner dituntut untuk menyesuaikan selera para pendatangnya, bukan pendatang yang harus menyesuaikan seleranya. istilah kata semakin banyak orang sumatra yang ke jogja maka semakin banyak pula lah menu "PEDAS" yang dihidangkan. kira-kira begitu.

DARI PREMIUM HINGGA RENCANA BELI PESAWAT

sumber gambar: http://www.harnas.co/files/images/760420/2016/02/16/pabrik-pesawat-boeing-di-seattle-amerika-serikat.jpg



Berawal dari obrolan ringan tentang tidak diperkenankannya lagi PREMIUM di jual secara eceran, membuat pembicaraan kami menjadi semakin melebar hingga pada akhirnya kami pun bertanya-tanya berapakah kira-kira harga AVTUR (bahan bakar pesawat) jika dijual per liter. setelah mencari-cari dari berbagai sumber kami menemukan bahwa ternyata harga AVTUR di tiap bandara itu berbeda-beda. di bandara SOEKARNO-HATTA misalnya, harga AVTUR dijual Rp 7.533,49 per liter sedangkan di bandara HASANUDIN, Makassar AVTUR dijual Rp 9.000,48 per liter.

Ternyata tidak mahal ya kalau belinya per liter, he..he..he..

lalu berapa liter AVTUR yang dibutuhkan sebuah pesawat terbang dalam sekali penerbangan ? menurut
Faisal Assegaf Pilot Boeing 777, Garuda Indonesia. untuk Boeing 777 per menitnya membutuhkan setidaknya 110 liter avtur. Itu berarti pesawat membutuhkan 6600 Liter AVTUR dalam satu jam penerbangan. Kalau dikonversikan dalam rupiah. Untuk sekali terbang sebuah pesawat memerlukan dana sekitar Rp.66.000.000 (harga AVTUR 10.000/liter) hanya untuk membeli bahan bakar.

itu baru untuk bahan bakar bro, belum lagi untuk biaya parkir pesawat yang katanya mencapai Rp. 10.000.000/ jamnya.

pertanyaan selanjutnya adalah berapa keuntungan sebuah pesawat terbang dalam sekali penerbangan ?
kita hitung dari penjualan tiket saja ya.

Katakanlah pesawat dengan rute Yogyakarta – Jakarta dengan waktu tempuh1 Jam dan membawa 250 penumpang ekonomi yang harga tiketnya Rp. 450.000/orang, maka akan muncul nilai Rp.112.500.000 untuk sekali terbang.

112.500.000 (penjualan tiket) – 66.000.000 (pembelian bahan bakar) – 10.000.000 (parkir per jam) = maka keuntungan bersihnya adalah Rp.36.500.000


lalu berapa harga sebuah pesawat terbang ?

Dari berbagai sumber yang ada untuk pesawat jenis Boeing 747 Keluaran Tahun 1967 – 1982 itu seharga = $24 Jt – $83 Jt atau setara dengan Rp. 216 M – 747 M dan Keluaran Tahun 2007 itu seharga = $228 Jt – $260 Jt atau setara dengan Rp. 2 T – 2,35 T

tertarik untuk membeli pesawat ??

dari hitung-hitungan yang sudah dilakukan, maka jika harga pesawat 2,5 M dan rata-rata penghasilan pesawat untuk sekali terbang itu 36.500.000 maka perbulan akan dikenai angsuran sebesar 9,3 M (sudah termasuk pajak 2%) dan pembelian pesawat tersebut akan lunas dalam 30 Tahun. semoga saja di tahun kedua pesawat tersebut tidak dirudal atau tenggelam di samudera