YOGYAKARTA; KOTA YANG TAK LAGI "MANIS"

20:26:00 Unknown 0 Comments


sumber gambar: http://cdn.img.print.kompas.com/getattachment/37fb9dd7-f041-4dd4-accb-5ee72ff031b3


Fakta telah membuktikan bahwa Yogyakarta adalah daerah yang kaya akan budaya, bahkan menjadi salah satu daerah tujuan wisata utama di Indonesia. Pariwisata merupakan salah satu elemen yang mampu membuat perekonomian tumbuh pesat di yogyakarta. Hal ini dapat dilihat dari wisata yang ada di Yogyakarta sangat beragam. mulai dari wisata pantai, gunung, wisata budaya, sejarah, religi bahkan wisata edukasi serta tempat- tempat rekreasi yang menarik lainnya. sehingga, tak heran jika wisatawan mancanegara pun menjadi terpesona akan wisata dan budaya dikota ini. 

Melihat kota yang dipadati oleh banyak orang, membuat peluang bisnis kuliner di Yogyakarta semakin cerap prospeknya. Mengapa demikian? Banyangkan saja, kota ini didatangi oleh orang-orang berbeda tiap harinya dan kebutuhan makanan adalah pelengkap dari semua kebutuhan.

Namun sayangnya prospek tersebut tidak dibarengi dengan kebijakan Pemda setempat (atau mungkin saya yang belum mendengar kebijakannya) tentang kewajiban warung kuliner dalam mempromosikan atau menjual makanan khas Yogyakarta. Hal ini penting dilakukan dalam rangka menjaga dan melestarikan makanan khas suatu daerah. 

Saat ini, makanan “khas yogyakarta” seakan sepi dari pemberitaan dan promosi. Sebagai contoh, saya fikir selama ini kebanyakan wisatawan hanya tau (mendengar) bahwa gudeg itu manis tanpa pernah mencicipi bagaimana sebenarnya rasa gudeg tersebut. Manis seperti apa yang sebenarnya di maksud ? hanya manis saja kah ? atau manis namun gurih ? atau manis yang lain. Tidak adil rasanya jika menghakimi sesuatu tanpa pernah tau bagaimana yang sebenarnya. 

barangkali ada yang mau menghitung, kira-kira berapa jumlah warung makan / kulineran di Sepanjang jalan kaliurang ?. saya fikir tidak hanya10 sampai 20 penjual Kuliner, tapi ada ratusan penjual kuliner yang berjejer rapi baik itu berbentuk ruko, rumahan bahkan dengan tenda. Pertanyaannya kemudian adalah, berapakah yang menjual makanan atau menu khas/asli yogyakarta ? satu, dua ?

mungkin prinsip “dimana bumi dipijak, disitu langit di junjung” tidak asing ditelinga kita. Namun sayangnya prinsip ini tidak berlaku bagi pengusaha kuliner atau warung makan, karena saat ini warung makanan/ kuliner dituntut untuk menyesuaikan selera para pendatangnya, bukan pendatang yang harus menyesuaikan seleranya. istilah kata semakin banyak orang sumatra yang ke jogja maka semakin banyak pula lah menu "PEDAS" yang dihidangkan. kira-kira begitu.

0 comments: