es krim "OEN",
dan perjalanan pun dimulai.
"Toko Oen Die Sinds 1930 Ann De Gasten Gezelligheid Geeft"
masih dari malang guys, saat itu hari kamis 28 Juli 2016. karena tidak ada jadwal pelatihan di pagi hari kami memutuskan untuk berburu kuliner khas malang. perjalanan pagi itu kami mulai dengan membuat "list" makanan apa saja yang harus dicicipi pada hari itu, karena waktu yang terbatas kurang lebih hanya 4 jam (termasuk perjalanan dari dan menuju hotel) dan pada jam 1 siang kami harus kembali mengikuti kegiatan, kami pun memutuskan hanya akan ke toko es krim legendaris "OEN" dan terpaksa mencoret "BAKSO" dari list perjalanan.
dan perjalanan pun dimulai.
karena perjalanan dari hotel menuju es krim "OEN" lumayan jauh kami memutuskan untuk menggunakan taksi. setelah 20 menit perjalanan kamipun akhirnya sampai di lokasi. nuansa tokonya (arsitektur, ornamen dan interiornya) cukup membuat kami seakan kembali ke tahun 1930an "klasik". tidak lama kemudian pelayan "OEN" datang menghampiri dan bertanya kira-kira menu apa yang akan kami pesan. setelah melihat menu saya memutuskan untuk membeli "corn ice cream" karena saya memang cinta mati dengan yang namanya jagung..
Toko
Oen sendiri berdiri pertama kali di kota Yogyakarta pada tahun 1922 oleh seorang
Tionghoa peranakan Belanda yang bernama Liem Goe Nio. Karena memiliki
masakan yang cukup terkenal, kemudian Toko Oen membuka cabang di
beberapa kota di Indonesia, seperti di Semarang, Jakarta, dan juga
Malang. Namun, seiring dengan perkembangan jaman, Toko Oen di Yogyakarta
dan Jakarta akhirnya tutup, hanya tinggal toko di Malang dan Semarang
saja yang masih buka. Toko di Semarang diambil alih oleh cucu Liem yaitu
Yenny Megaputri. Pada tahun 1997, Toko Oen membuka cabang di Delf,
Belanda, kemudian pada tahun 2000 membuka cabang kembali di kota Den
Haag. Pada perkembangan selanjutnya, Toko Oen di Kota Malang dijual
kepada seorang pengusaha yang bernama Dany Mugiato.
Soal rasa memang es krim di sini tergolong biasa dibandingkan dengan es
krim-es krim pada jaman kini yang terasa susu dan krim-nya. Es krim jadul
memiliki tekstur yang lebih kasar, sekilas mirip dengan es lilin
teksturnya ketika masuk ke dalam mulut, namun lebih halus dan rasa
susunya lebih terasa. Manisnya pas, tidak terlalu manis sekali dan tidak
menimbulkan rasa eneg di mulut. tapi untuk harga memang sedikit agak mahal, Corn Ice Cream yang saya pesan saja dibandrol dengan harga 45.000.
setelah puas menikmati es krim "OEN" kami pun memutuskan untuk pulang ke hotel, namun karena waktu yang masih lama, kami sepakat untuk mampir dulu ke "BAKSO BAKAR PAHLAWAN TRIP" sebelum akhirnya pulang ke Hotel.
setelah puas menikmati es krim "OEN" kami pun memutuskan untuk pulang ke hotel, namun karena waktu yang masih lama, kami sepakat untuk mampir dulu ke "BAKSO BAKAR PAHLAWAN TRIP" sebelum akhirnya pulang ke Hotel.


0 comments: