AKU BER "WHATSAPP-an" MAKA AKU SEDANG BERPIDATO
Hari ini lagi-lagi
saya mendapatkan sebuah protes keras dari seseorang, bahkan ia mengancam tidak akan
mau lagi berkirim pesan via whatsapp dan sejenisnya karena menurutnya bahasa
yang saya gunakan itu terlalu teoritis, formal dan terkesan seperti sedang
berpidato. Tapi jujur Ini bukan yang pertama kalinya saya mendapatkan teguran
yang serupa bray, dulu juga pernah ada yang mengatakan begitu.
Dari kejadian di atas, kesimpulan
sementara saya adalah, yang menyebabkan dua orang bertengkar itu tidak hanya karena
salah faham saja tetapi juga karena kelebihan faham atau kelebihan informasi yang diberikan, sebagaimana yang saya alami
tadi. Karena kalau saya terus-terusan berkomunikasi seperti itu (berpidato) pesan
saya tidak akan pernah lagi dibaca dan pada akhirnya komunikasi akan terputus. Selesai
!
begitukah yang antum – antum rasakan saat berkomunikasi dengan saya ?
kok saya merasa biasa aja
ya ?
Apapun itu, terima kasih
karena sudah mengingatkan, karena sejatinya kita memang tidak bisa menilai diri
kita sendiri, kritik dan saran dari orang lain terhadap diri kita sangat
penting dalam rangka memahami bagaimana karakter kita sebenarnya.tapi kalau menolak kritikan mah sama aja jadinya.
hanya klarifikasi saja, mungkin karena
karakter asli saya pendiam kali ya, jadi kalau berbicara itu harus serius
dan susah untuk di ajak melucu *pembelaan
0 comments: