KOPI DAN MANTRA PARA PENIKMATNYA
caramu menikmati secangkir kopi itu sama dengan caramu menikmati dan memaknai kehidupan, berikut beberapa quotes tentang kopi:
“Kita tidak bisa menyamakan kopi dengan air tebu. Sesempurna apa pun kopi
yang kamu buat, kopi tetap kopi, punya sisi pahit yang tak mungkin kamu
sembunyikan.”
― Dee Lestari,
― Dee Lestari,
"Dan kamu tahu apa kehebatan
kopi tiwus itu?" katanya dengan tatapan kosong, "Pak Seno bilang,
kopi itu mampu menghasilkan reaksi macam-macam. Dan dia benar. Kopi tiwus telah
membuatku sadar, bahwa aku ini barista terburuk. Bukan cuma
sok tahu, mencoba membuat filosofi dari kopi lalu memperdagangkannya, tapi yang
paling parah, aku sudah merasa membuat kopi paling sempurna di dunia. Bodoh!
Bodoooh!" Filosofi Kopi”
― Dee Lestari,
― Dee Lestari,
“Banyak sekali orang yang doyan
kopi tiwus ini. Bapak sendiri ndak ngerti
kenapa. Ada yang bilang bikin seger, bikin tentrem, bikin sabar, bikin tenang,
bikin kangen... hahaha! Macem-macem!
Padahal kata Bapak sih biasa-biasa saja rasanya, Mas. Barangkali, memang
kopinya yang ajaib. Bapak ndak pernah ngutak-ngutik, tapi berbuah terus.
Dari kali pertama tinggal di sini, kopi itu sudah ada. Kalau 'tiwus' itu
asalnya dari almarhumah anak gadis Bapak. waktu kecil dulu, tiap dia lihat
bunga kopi di sini, dia suka ngomong 'tiwus-tiwus' gitu,"
dengan asyik Pak Seno mendongeng. Filosofi Kopi”
― Dee Lestari,
― Dee Lestari,
“Sebab Tuhan selalu punya cara
yang indah untuk membuat hambaNya selalu tersenyum meski dalam tangis
sekalipun. Bukankah kopi itu akan terasa pahit jika tak berkolaborasi dengan
gula. Gula juga tak akan terasa nikmat jika tak bercampur dengan kopi. Maka
pahit dan manis itu adalah karya alam yang sangat”
― Dian Nafi,
― Dian Nafi,
“Pahit dan manis bercampur adalah
suatu kenikmatan, seperti kopi yang disajikan ketika hangat ataupun dingin.
Tambahkan gula jika terlalu pahit atau hangatkan jika terlalu dingin;
Seperti itulah hidup, kita sendiri yang menentukan tingkat kenikmatannya dengan tetap bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah”
― Harly Umboh
Seperti itulah hidup, kita sendiri yang menentukan tingkat kenikmatannya dengan tetap bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah”
― Harly Umboh
“Aku ini lelaki, yang kerap
tenggelam dalam secangkir kopi. Yang didalamnya kuaduk sepi, meng-iyakan bahasa
hati. Puisiku mati.”
― Rohmatikal Maskur
― Rohmatikal Maskur
“Mungkin kopi itu terlambat
momennya untuk dinikmati. Cairan itu mendingin dan sensasi kafein di dalamnya
sudah memudar ditelan waktu. Kopi tersebut ditinggalkan begitu saja.
Terabaikan.”
― Devania Annesya
― Devania Annesya
“akhirnya aku tertunduk lesu,
setelah kepergian mu, di iringi dinginnya kopi di malam minggu”
― andra dobing
― andra dobing
“Kutenggelamkan diri pada malam
dalam-dalam; puisi dan didih kopi dari air dispenser.”
― Dina Zettira Putri
― Dina Zettira Putri
"..Pamanku yang berjiwa
lapang dan merupakan umat Nabi Muhammad yang amat pemurah, menyediakan kopi miskin
dalam menu warungnya. Sesekali, secara diam-diam, pamanku menyuruh kami
menambahkan gula untuk kopi miskin, karena ia tak sampai hati pada kaum
yang papa itu. Namun aneh, pembeli melarat yang telah terbiasa dengan kopi miskin
malah tak menyukai hal itu. Pelajaran moral nomor dua puluh dua: kemiskinan
susah diberantas karena pelakunya senang menjadi miskin."
―Andrea Hirata
―Andrea Hirata
"Mereka yang menghirup
kopi pahit umumnya bernasib sepahit kopinya. Makin pahit kopinya, makin berlika-liku
petualangannya. Hidup mereka penuh intaian mara bahaya. Cinta? Berantakan.
Istri? Pada minggat. Kekasih? Berkhianat di atas tempat tidur mereka sendiri!
Bayangkan itu. Bisnis? Mereka kena tipu. Namun, mereka tetap mencoba dan
mencipta. Mereka naik panggung dan dipermalukan. Mereka menang dengan
gilang-gemilang lalu kalah tersuruk-suruk. Mereka jatuh, bangun, jatuh, dan
bangun lagi. Dalam dunia pergaulan zaman modern ini mereka disebut para
player."
―Andrea Hirata
―Andrea Hirata
"Aku sudah diperalat oleh
seseorang yang merasa punya segala-galanya, menjebakku dalam tantangan bodoh
yang cuma jadi pemuas egonya saja, dan aku sendiri terperangkap dalam
kesempurnaan palsu, artifisial! serunya gemas, "Aku malu kepada diriku
sendiri, kepada semua orang yang sudah kujejali dengan kegomalan Ben's
Perfecto."Gombal? Aku positif tidak mengerti."Dan kamu tahu apa
kehebatan kopi tiwus itu?" katanya dengan tatapan kosong, "Pak
Seno bilang, kopi itu mampu menghasilkan reaksi macam-macam. Dan dia
benar. Kopi tiwus telah membuatku sadar, bahwa aku ini barista terburuk.
Bukan cuma sok tahu, mencoba membuat filosofi dari kopi lalu
memperdagangkannya, tapi yang paling parah, aku sudah merasa membuat kopi paling
sempurna di dunia. Bodoh! Bodoooh!" Filosofi Kopi"
―Dee Lestari
"Akan tetapi, yang
benar-benar membuat tempat ini istimewa adalah pengalaman ngopi-ngopi yang
diciptakan Ben. Dia tidak sekadar meramu, mengecap rasa, tapi juga merenungkan
kopi yang dia buat. Ben menarik arti, membuat analogi, hingga terciptalah
satu filosofi untuk setiap jenis ramuan kopi. Filosofi Kopi"
―Dee Lestari
―Dee Lestari
"Buat apa saya menghabiskan
waktu membaca hal-hal yang tidak penting untuk dikonsumsi oleh otak, mendingan
saya menghabiskan waktu, duduk santai, minum kopi untuk membaca
bertumpuk-tumpuk buku fiksi."
―Finchu Harefa
―Finchu Harefa
"Karamel. Aku baru
memperhatikan, warna matanya coklat keemasan, seperti sirup karamel yang selalu
kucampurkan di kopiku."
― Francisca Todi
"Tentang kopi kesukaanmu,
cappucino, kopi itu bukan dari italia. Aslinya berasal dari biji-biji
kopi Turki yang tertinggal di medan perang di Kahlenberg. Hanya sebuah info
pengetahuan kecil-kecilan. Assalamu'alaikum" — Fatma, 99 Cahaya di Langit
Eropa hal. 50"
―Hanum Salsabiela Rais
―Hanum Salsabiela Rais
"Secangkir kopi yang
dengan tenang menunggu kau minum itu tidak pernah mengusut kenapa kau bisa
membedakan aromanya dari asap yang setiap hari kau hirup ketika berangkat dan
pulang kerja di kota yang semakin tidak bisa mengerti kenapa mesti ada
secangkir kopi yang tersedia di atas meja setiap pagi"
―Sapardi Djoko Damono
―Sapardi Djoko Damono
"Setiap hari ada senja, tapi
tidak setiap senja adalah senja keemasan, dan setiap senja keemasan itu
tidaklah selalu sama….Aku selalu membayangkan ada sebuah Negeri Senja, dimana
langit selalu merah keemas-emasan dan setiap orang di negeri itu lalu lalang
dalam siluet.Dalam bayanganku Negeri Senja itu tak pernah mengalami malam, tak
pernah mengalami pagi dan tak pernah mengalami siang.Senja adalah abadi di
Negeri Senja, matahari selalu dalam keadaan merah membara dan siap terbenam
tapi tak pernah terbenam, sehingga seluruh dinding gedung, tembok gang, dan
kaca-kaca jendela berkilat selalu kemerah-merahan.Orang-orang bisa
terus-menerus berada di pantai selama-lamanya, dan orang-orang bisa terus-menerus
minum kopi sambil memandang langit semburat yang keemas-emasan.
Kebahagiaan terus-menerus bertebaran di Negeri Senja seolah-olah tidak akan
pernah berubah lagi…."
―Seno Gumira Ajidarma
―Seno Gumira Ajidarma
"Ada orang bilang bahwa
cinta pasti dapat menyelesaikan segala problema yang ada.Padahal mungkin hanya
dengan suguhan tulus kopi nikmat di pagi hari sudah cukup
mengatasinya."
―Toba Beta
"Allah! Betapa indahnya
sepiring nasi panasSemangkuk sup dan segelas kopi hitam"
―W.S. Rendra
―W.S. Rendra

0 comments: