Kaum Miskin Urban: Anak Muda yang Kelaparan Namun Tetap Eksis
Anak-anak muda meyakini bahwa untuk menghasilkan
banyak uang, kita harus menghabiskan banyak uang
Disaat jam istirahat kantor saya dibuat penasaran dengan sebuah artikel yang tiba-tiba muncul diberanda salah satu media sosial saya, "Mengenal Kaum Miskin Urban: Anak-Anak Muda yang Kere, Kelaparan, tapi Eksis". selesai membaca sambil berkata didalam hati, this is real !! fikiran saya langsung kembali ke beberapa tahun ke belakang saat di bangku kuliah seperti saat tidak berani menolak ajakan "nongkrong" walaupun di akhir bulan hanya karena takut dibilang tidak setia kawan dll..
Oleh Marli Haza
(Catatan Editor: Ini adalah terjemahan artikel “The Urban
Poor You Haven’t Noticed: Millennials Who’re Broke, Hungry, But On Trend”
yang ditulis Gayatri Jayaraman di laman Buzzfeed tanggal 5 Mei 2016. Artikel
asli tulisan ini bersituasi di negara India. Nama tempat, mata uang,
dan aspek lainnya menyesuaikan yang sebenarnya di India.)
Saya mulai menyadari hal ini sejak terkejut
menyaksikan seorang pemenang kontes kecantikan level nasional tampil di klub
malam remang-remang di Santacruz
West. Kata teman yang mengajak saya ke situ, wanita itu mulai
bekerja di sana waktu dia menunggu lowongan jadi artis Bollywood. Untuk dapat
peran, dia harus sering terlihat melenggang di karpet merah dan pesta-pesta,
makanya dia butuh beli sepatu hak tinggi dan gaun. Pertunjukan demi pertunjukan
di klub itu memberikannya banyak uang. Jadilah klub itu sumber penghasilan
utamanya.
Saya kenal seorang manajer pemasaran, masih muda, yang
nekat kredit mobil waktu dapat gaji pertamanya tapi sekarang tidurnya di mobil.
Gajinya habis untuk bayar kontrakan rumah dan cicilan mobil, tak tersisa untuk
makan. Dia parkir di suatu tempat, tapi untungnya Mumbai masih tergolong kota
yang aman.
Ada juga teman wartawan junior. Selama beberapa saat,
dia jarang masuk kerja. Makin kelihatan kurus pula. Dia bilang itu karena dia jogging
setiap sore. Tapi saat dia jarang muncul waktu makan siang, atau menyeruput
kopi sepanjang hari, saya baru sadar. (Saya ngeh kalau ada yang janggal
karena saya dulu pernah begitu juga.)
Saya whatsapp dia. Itu satu-satunya cara
mengobrol empat mata tanpa ketahuan orang lain.
“Kamu punya uang untuk makan siang, gak?”
Ternyata dia memang lagi bokek.
Dia bilang kalau lagi punya uang, dia sabar-sabar
menahan lapar biar bisa mampir ke Le Pain Quotidien* untuk beli sandwich sisa
harian yang didiskon jadi 200 rupee atau sekitar Rp40 ribu kalau malam.
Padahal dengan uang segitu, dia bisa beli makanan di
kantin. Tapi menurutnya, makan tidak lebih penting dibanding eksis untuk makan
roti di Le Pain Quotidien.
Inilah kaum miskin urban, gejala yang lagi melanda
sebagian besar orang India. Mereka sebenarnya sama sekali tidak “miskin”. Tapi
mereka lapar dan bokek. Inilah wujud masyarakat metropolitan umur dua-puluhan
yang terlalu memedulikan tekanan sosial di sekelilingnya dan menghabiskan
hampir seluruh gajinya demi gaya hidup dan penampilan yang mereka yakini
berpengaruh pada pekerjaan mereka.
Beban gaya hidup ini tidak bisa dicoret dari daftar
pengeluaran mereka: baju-baju dan perawatan tubuh, kongkow dan makan
malam di tempat mewah, biaya transport naik Ola** atau Uber karena harus
kerja sampai jam satu pagi, dan tagihan kopi Starbucks yang harus dibeli buat
ketemu klien. Tidak lupa, sepatu hak tinggi dan gaun.
Kalau saldo rekening sudah sekarat di tanggal 20-an,
mereka berpikir balasannya tidak mungkin saat itu juga, tetapi nanti: waktu
gaji naik, waktu dapat promosi jabatan, atau syukur-syukur orang tua lagi baik
mau transfer uang.
Pengaruh mereka luas. Inspirasi mereka datangnya dari
kisah para pengusaha muda yang pinjam uang dari perusahaan modal untuk
membangun bisnis, yang katanya berhasil memutar setiap perak uang menjadi
seratus kali lipat. Tapi kisah yang mereka dengar adalah tentang Mukesh Ambani, yang
diwarisi perusahaan besar kemudian bisa membangun istana megah, bukannya
tentang Dhirubhai,
yang tinggal di rumah kecil dan membangun perusahaan besar. Kisah yang mereka
dengar adalah tentang Katrina Kaif
yang menghabiskan 50 ribu rupee atau sekitar Rp100 juta rupiah untuk mengecat
rambutnya. Itulah sebabnya mereka meyakini bahwa untuk menghasilkan banyak
uang, kita harus menghabiskan uang yang banyak pula.
Demi bisa kuliah di kampus yang bagus, kita rela
keluar uang banyak untuk bayar semesterannya. Demi dapat pekerjaan, kita habiskan
tabungan untuk sekolah sampai S3 kalau perlu. Demi promosi jabatan, kita beli
jas dan minuman jamuan.
Kita berpenampilan demi pekerjaan yang diimpikan,
tetapi lupa bahwa sebagian besar gaji kita yang terpangkas untuk itu seharusnya
digunakan untuk berpenampilan sesuai pekerjaan yang sekarang.
Setiap koran dan media memasang tajuk utama tentang
apa yang perlu kita makan, tampilkan, dan pakai untuk jadi sukses. Ke mana kita
harus liburan, apa parfum yang kita pakai, mobil apa yang harus kita kendarai.
Tapi mereka tidak mengajarkan kita cara membayarnya.
Apa yang tersisa di diri kita adalah segerombolan anak
umur dua-puluhan yang berusaha lari meninggalkan identitas pengonsumsi nasi
kucing dan es teh manis, demi disangka pengonsumsi burger dan kola. Dari situ
kemudian lari lagi demi dikira penggemar keju dan champagne.
Waktu saya mulai tinggal mandiri, sekitar 15 tahun
lalu, gaji saya cuma 10.000 rupee. Untuk kontrak rumah habis 4.000 rupee,
penitipan anak 4.000 rupee, dan 2.000 rupee sisanya untuk ongkos dan listrik.
Untuk belanja kebutuhan sehari-hari, saya pakai kartu kredit. Saya masih umur
25 tahun, anak saya satu tahun, dan kadang kami beli es krim, nonton bioskop,
atau menikmati hiburan juga pakai kartu kredit. Ketika pindah kerja dengan gaji
yang lebih tinggi, kartu kredit saya mencapai limitnya dan harus segera
dibayar. Selisih kenaikan gaji itu saya gunakan untuk melunasi, karena saya
sudah memakai uang yang malah belum saya terima.
Cepat saya pahami, bersama kenaikan gaji, biaya
kebutuhan juga semakin tinggi. Selama menjalani pekerjaan saya yang pertama,
rasanya punya satu jins dengan tiga atasan yang dipakai bergantian tiap hari
juga sudah cukup. Jabatan yang semakin meningkat membuat saya perlu pakaian
yang lebih bagus. Saya diharuskan tampil “berwibawa”. Makan siang di sini,
senang-senang di situ, lalu rapat di kedai kopi mewah.
Saya berusaha keras menentang lingkungan yang
bersekongkol menjerat profesional muda ke jurang kebangkrutan. Saya selalu
menghitung dalam hati sebelum memutuskan beli sesuatu. Terkadang saya hanya
beli satu botol bir dan meminumnya sedikit-sedikit.
Sekarang, di mana pun, saya bisa menebak mana
orang-orang yang di ambang kebangkrutan: vegetarian yang tidak makan salad
pembuka, orang yang cuma minum air putih, atau junior yang mengaku sudah makan
untuk menolak tawaran makan malam. Dan ketika, setelah makan bareng, orang yang
bersama mereka dengan santainya mengajak untuk patungan, kelihatan mereka
inilah yang pura-pura menunduk.
Saya juga pernah seperti itu. Kita tidak bisa menolak
ajakan seperti itu karena nanti kita terkesan pelit. Jadi, terlepas dari apakah
kita mampu membayar makanan yang memang kita pesan untuk kita sendiri, mau
tidak mau kita juga harus ikut bayar makanan yang dipesan teman kita.
Kemudian, recehan logam terasa sangat berharga. Kita
mencari-cari recehan yang menyelip di pojok sofa. Kita menunggu kantor sepi
lalu naik bus pulang ke rumah.
Sekarang, saya kadang sengaja berpapasan dengan teman
kantor yang masih junior dan bertanya, “Udah makan belum? Saya traktir kopi,
yuk? Nanti pulangnya mau bareng, nggak?” Terkadang, mereka gengsi dan
menolak tawaran itu. Terkadang juga, gengsi mereka runtuh dan mereka
mengangguk.
Orang tua mereka, generasi yang jarang berdiskusi soal
uang, mengajari mereka bahwa tidak ada harga yang terlalu mahal untuk
kebahagiaan diri sendiri. Kalau orang tua mereka menelepon dan menawarkan diri
mentransfer mereka uang, mereka bilang tak perlu, semuanya masih bisa diatur.
“Iya, Pah, makannya dijaga kok, di kantor baik-baik saja.” Dibesarkan oleh
orang tua yang mengorbankan segalanya untuk kebahagiaan mereka, anak-anak ini
sebenarnya diam-diam belajar hidup prihatin.
Orang yang bisa melewati masa sulit selalu dilabeli
“tangguh”, padahal “tangguh” berarti perut lapar dan isak tangis yang tertahan.
Terkadang, saya merasa saya sudah melalui masa-masa itu.
Baru-baru ini, saya sedang mewawancarai seorang
pelamar yang memotong pertanyaan saya hanya untuk bilang, “Sis, supir
saya HP-nya lebih bagus dari punyamu,” sambil tertawa. “Beli iPhone, kek!”
Penampilan saya sudah mentereng. Saya punya rumah.
Tabungan juga lebih dari cukup. Tapi bahan ledekan kok tidak juga
berubah selama 10 tahun.
Bulan lalu, saya mulai nge-twit kaum miskin
urban ini, dan banyak yang merespon, “saya juga”.
Satu orang mengaku bahwa selama tiga tahun di Jerman,
dia cuma makan tomat, menghemat uang agar bisa beli coklat untuk keluarganya
ketika pulang kampung. Ada yang bilang, “Semuanya baik-baik saja kok!” lewat
telepon jarak-jauh ke kampung halaman hanya agar ibunya berpikir pengorbanan
ibunya menjual gelang untuk ongkosnya mengembara tidak sia-sia.
Ada yang tidur di kasur single dan menyimpan
sepatu kets di kolong meja kerja untuk dipakai jalan kaki sepanjang 8 km saat
pulang kantor setiap malam.
Saya juga pernah dengar cerita soal anak-anak bagian
pemasaran yang kelaparan setiap hari hanya untuk ngopi di hotel bintang
lima.
Ada juga seorang ayah yang tidak pernah liburan selama
13 tahun hanya agar bisa membiayai pendidikan anaknya di luar negeri.
Ada yang pernah bertahan seharian hanya minum air dan
menumpang di truk untuk berangkat ke kampus.
Ada yang dijuluki pelit karena tidak pernah makan di
luar.
Di negara yang wabah kelaparan nyata terjadi di
mana-mana, “kelaparan” yang semacam ini datangnya dari pilihan gaya hidup.
Entah bagaimana, kita telah membangun budaya yang menempatkan penampilan
sebagai nilai utama, hingga kita rela menghabiskan banyak uang untuk kelihatan
kenyang ketimbang menyisihkan sedikit uang untuk benar-benar makan.
“Kelaparan” ini menyentuh setiap orang dengan
cara yang berbeda-beda—bisa sementara atau selamanya, bisa ringan atau parah,
bisa sekali atau berkali-kali. Tapi sekali kita menyadari hal itu di sekeliling
kita, sulit sekali untuk mengabaikannya. Kita jadi anggota suatu kaum yang
mengerti kenapa rekan kerja kita tumben-tumbennya bawa bekal makan, kelihatan
kurusan, dan menghabiskan waktu sampai malam di kantor agar tidak perlu bayar
jemputan. Kalau dahulu, walau sebentar, kita pernah merasakan “kelaparan”
seperti itu, kita akan sadar bahwa ternyata semua orang pun begitu.
sumber: http://birokreasi.com/2016/06/mengenal-kaum-miskin-urban-anak-anak-muda-yang-kere-kelaparan-tapi-eksis/

0 comments: